Human Capital
Setelah sekian lama tidak meng-update tulisan di WP, akhirnya dini hari ini saya memutuskan untuk meng-update tulisan di WP. Sebenarnya masih banyak “antrian” judul yang harus sudah lama ingin ditulis, tapi tidak ada kesempatan untuk menulisnya. Tapi karena saya harus menulis proposal research dan harus selesai sebelum tanggal 28 besok (bahasa inggris pula), dan ternyata saya stuck tidak bisa menulis 1 kalimat pun, maka saya putuskan untuk “memuntahkan” 1 point bahasan disini. Judul dari tulisan ini adalah human caapital, jadi saya akan membahas tentang manusia dengan konteks manusia dalam organisasi. So here we go.
Apa sih pengertian human capital itu? human capital adalah modal manusia. Ha..that’s it? itu namanya penerjamahan bukan pengertian, anak SD juga tahu kali yah… ^_^. Makna sebenarnya dari HC adalah manusia diperlakukan bukan hanya sekedar sebagai sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan, tetapi sebagi modal utama yang menentukan apakah perusahaan dapat mencapai tujuannya atau tidak. Setelah tahu makna HC timbul pertanyaan, apa perbedaan arti dari sumber daya dan modal?
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI edisi ke-empat), pengertian sumber daya adalah segala sesuatu, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, yang digunakan untuk mencapai suatu hasil. Menurut Wikipedia, sumber daya adalah suatu nilai potensi yang dimiliki oleh suatu materi atau unsur tertentu dalam kehidupan. Sumber daya terbagi menjadi 2 jenis, yaitu sumber daya yang dapat diperbaharui dan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Sumber daya manusia, menurut KBBI, adalah potensi dari manusia yang dapat dikembangkan untuk proses produksi.
Modal, dalam KBBI juga, adalah harta benda atau barang atau sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan sesuatu yang menghasilkan sesuatu yang menambah kekayaan. Menurut Wikipedia, modal merujuk pada kekayaan yang dimiliki oleh seseorang. Jadi sebenarnya beda antara capital and resources apa? modal dan resources sama-sama merupakan kekayaan bagi suatu organisasi. Jadi? Sejujurnya untuk konteks manusia dalam organisasi, saya juga masih bingung perbedaannya apa. Tapi jikalau kita melihat logika akuntansi (dalam laporan keuangan).
Dalam laporan keuangan, sumber daya yang ada dalam organisasi dikelompokkan kedalam kelompok aset. Suatu transaksi atau sumber daya dapat dikatakan sebagai aset jika memenuhi syarat berikut ini : mempunyai manfaat ekonomik masa depan, dikuasai oleh entitas tersebut, dan merupakan transaksi masa lalu. Manusia dalam organisasi memenuhi kriteria sumber daya pada kelompok aset ini. Pertama, manusia dalam organisasi mempunyai manfaat masa ekonomik masa depan dari pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki manusia itu sendiri. oleh karena itu banyak orang berkata “manusia adalah aset perusahaan”. Kedua, merupakan transasksi masa lalu, perusahaan tidak bisa menggunaan keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki seseorang jika tidak ada transaksi antar dua belah pihak. Ketiga dikuasai oleh entitas tersebut, hal ini masih menjadi perdebatan antar ahli-ahli dalam bidang HR sendiri karena pada dasarnya entitas tidak menguasai seluruhnya atas karyawannya dan karyawannya hanya meminjamkan keahlian dan pengetahuannya ke prusahaan. Well, untuk poin ke tiga akan saya bahas lebih lanjut di paragraf setelahnya. Aset dalam suatu organisasi diperkirakan akan mengalami depresiasi atau akumulasi penurunan.
Modal jika dalam laporan keuangan diletakkan dalam sisi ekuitas. Ekuitas sendiri mempunyai arti hak residual atas aktiva perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban (Suwardjono, Teori Akuntansi 2005). Modal sendiri bermakna sesuatu (dalam hal ini biasanya uang) yang “ditanamkan” oleh pihak ketiga dalam suatu entitas. Dalam konteks ini, manusia dalam organisasi dikatakan sebagai modal karena karyawan dianggap sebagai investor yang menanamkan “modal” dalam hal ini pengetahuan dan keterampilannya kepada perusahaan dan menghasilkan suatu pengembalian atau return kepada perusahaan sesuai dengan pengelolaan pengetahuan dan keterampilan karyawan tersebut. Modal manusia melihat perilaku karyawan yang mirip dengan perilaku investor. Perilaku investor menanamkan modalnya berupa uang ke perusahaan, mereka berharaap return yang menguntungkan pada perusahaan tersebut dan jika mereka tidak mendapatkannya keuntungan yang diharapkan maka mereka akan menarik uang yang telah mereka tanamkan dan dialihkan ke perusahaan lain yang memberikan keuntungan yang lebih besar. Sounds familiar with this behavior? Sama seperti karyawan, jika mereka merasa kurang puas dengan gajinya, mereka akan pindah ke perusahaan yang bisa memberikan gaji yang menurut mereka sesuai dengan modal (keterampilan dan pengetahuan) yang mereka miliki. Karena itu poin ketiga dalam aset (dikuasai oleh entitas) menjadi perdebatan. Menurut sebagian ahli HR, modal yang dimiliki oleh karyawan tidak dikuasai oleh entitas, seperti investasi yang dimiliki oleh investor, perusahaan wajib mengembalikan apa yang telah ditanamkan investor ke perusahaan.
Jadi prinsip human capital sebenarnya lebih memperlakukan karyawan sebagai investor yang menginvestasikan modalnya berupa pengetahuan, tenaga, dan keterampilannya kepada perusahaan, dan pengembalian yang diberikan oleh perusahaan merupakan hak karyawan atas investasi modal manusianya. Prinsip human capital menurut beberapa sumber lebih memanusiakan manusia, maksudnya memperlakukan manusia sesuai dengan kodratnya sebagai manusia dan bukan berupa mesin yang “diperas” habis-habisan oleh perusahaan, karena modal yang mereka miliki tetap ada pada mereka dan tidak dikuasai peuh oleh entitas (tidak seperti pengertian aset).
So, what do you think? Human capital or human resources? For me, I choose human capital because the company treats its employees as important as their investor. The company have to respect their employees and they can get the goal congruence automatically.
And that ends my report ^_^