Cinta oh Cinta
22 Nov 2009 1 Komentar
in Reflection
Apa sih sebenarnya arti Cinta?
Cinta itu rasanya kayak gimana sih?
Beneran cinta itu buta? Tapi orang buta juga bisa bercinta kok.
for love i’ll do anything for you, eventhough if i must die for you…
AAAAAARRRRGGGHH *Jerit dengan nada suara melengking sampai 10 oktaf*
OMG PDA (oh my god, plis dong ah), sebegitunyakah arti Cinta?
Tulisan ini dibuat setelah membaca sebuah artikel di suatu media cetak, tentang percobaan bunuh diri sepasang kekasih. Alasan mereka bunuh diri karena tidak ingin berpisah satu sama lain, si cewek kecewa karena si cowok memutuskan hubunganya dan begitu pula si cowok karena tidak ingin ditinggal sendiri oleh sang cewek. Bingung? saya pun juga bingung membaca berita ini. Aneh bin ajaib menurut saya, kalau memang masih sama-sama suka kenapa mesti putus?
Membaca berita ini saya hanya tertawa, bingung dan geleng-geleng kepala. Kalau yang melakukan percobaan bunuh diri adalah pasangan yang sudah menikah, mungkin ada sedikit simpati untuk mereka. Tapi yang melakukan ini adalah siswa/i kelas 1 SMA yang masih berumur 15 tahun. Ya ampun, perjuangan dan perjalanan mereka masih panjang dalam kehidupan ini. Kenapa hanya karena masalah seperti ini mereka sampai nekat mencoba bunuh diri, lain halnya jika permasalahan yang dihadapi sekitar masalah keluarga.
Dimana akal sehat mereka? dimana logika mereka? Apa mereka tidak Cinta dengan kedua orang tua mereka sehingga begitu mudahnya mengobral nyawa mereka sendiri? Sudah kah mereka mengatakan dan mengungkapkan rasa Cinta mereka pada orang tua mereka yang notabene sangat menCintai mereka? Sebegitu dangkalnya kah arti dan makna Cinta bagi mereka? Sebegitu gampangnya kah bagi mereka kata-kata cinta diungkapkan dengan nyawa mereka? Nyawa dan cinta mereka diobral bagaikan seorang pedagang yang sedang mengobralkan barang dagangannya.
Makna cinta sebenarnya luas sekali, tapi kita sering menafsirkan sempit artinya. Cinta selalu dilekatkan dengan konteks hubungan antara cewek dan cowok. Tetapi maknanya lebih luas daripada Memang cinta terhadap seseorang terkadang membuat perasaan kita jadi kacau. Katanya kalau orang sedang jatuh cinta rasa manis dibilang pahit dan rasa pahit dibilang manis, dingin dibilang panas, panas dibilang dingin (panas dingin jadinya).
Cinta dapat merubah segalanya, apapun itu didunia ini. Yang baik menjadi buruk dan yang buruk menjadi baik. Tergantung dari penafsiran cinta yang kita miliki. Cowok pun yang katanya mengagung-agungkan logika daripada perasaan, bisa bertekuk lutut dibawah panji cinta. Cewek rela menyerahkan apapun demi cinta, bahkan hingga logika kita tidak berjalan. Kaum feminis pun yang beranggapan tahta dan harta adalah segalanya tetap tidak bisa menolak kekuatan cinta. Mereka pernah mengatakan, “kami bisa saja membunuh rasa ketertarikan kami kepada lawan jenis/pria, tapi kami tetap tidak bisa membunuh keinginan kami untuk mempunyai anak (rasa keibuan)“. Cinta untuk memiliki sorang anak dan memberikan cinta kepada anak tersebut. Sebegitu dahsyatnya kah kekuatan cinta hingga kita rela melakukan apa saja?
Mungkin ini adalah salah satu berkah yang diberikan ALLAH SWT kepada kita semua, berkah yang kita semua harus syukuri. Tapi berkah ini terkadang dimanfaatkan sebagian pihak untuk melakukan hal-hal yang negatif. Merubah arti dan makna cinta yang murni yang diberikan oleh ALLAH SWT. Ada satu hadits ,yang pernah diajarkan guru ngaji saya, “sebenarnya, sesuatu yang berlebihan atau sikap berlebihan itu buruk.” Menurut pendapat saya jika dilihat dari masalah ini, cinta merupakan berkah yang diberikan ALLAH SWT kepada kita, cinta terhadap makhluk konteksnya, tapi jika berlebihan maka makna dan arti cinta sudah tercoreng dari fitrahnya karena sudah tercampur dengan hawa nafsu. Cinta adalah perasaan yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup yang diciptakan oleh-NYA. Semua itu seudah diatur dan pada kodratnya masing-masing.
Memang menyakitkan jika kita mencintai seseorang dan ternyata orang tersebut mencintai orang lain. Apakah kita akan terus memperjuangkannya dan merusak kebahagiaan orang lain tersebut?Ataukah kita akan mengambil jalan pintas “bunuh diri” karena tidak kuat melihat orang lain berbahagia karena cinta sedangkan kita hanya bertepuk sebelah tangan?Semua itu jika dilogikan memang tidak masuk akal sama sekali, tapi terkadang kekuatan cinta lebih kepada perasaan daripada akal. Idealnya kita menemukan pasangan yang mencintai dan dicintai, tapi itu juga kita harus melakukan proses dan ujian yang banyak agar bisa mendapatkan kebahagiaan itu. Sakit hati sudah tak dapat terelakkan lagi dalam mencari cinta dan pasangan hidup kita.
Satu hal yang bisa kita ambil dari hikmah cinta, lebih enak mencintai ALLAH SWT yang menciptakan kita, karena kita tidak akan pernah bertepuk sebelah tangan. Cinta kita kepada ALLAH SWT akan selalu dibalas oleh-NYA, karena DIA selalu ada untuk kita. Dan jika saatnya memang sudah tiba, maka ALLAH SWT akan memberikan sesuatu yang terbaik untuk kita untuk dijadikan pasangan hidup kita. Itulah cinta dan kebesaran dari ALLAH SWT. Semua kejadian dan ujian yang kita hadapi karena ALLAH SWT juga mencintai dan sayang kepada kita, agar kita tidak terjerumus kepada keburukan. Jika dilogikakan, kita tidak akan mau membuat orang yang kita cintai terpuruk.
Sebenarnya Cinta itu indah ketika kita kembalikan arti dan makna cinta kepada fitrahnya yang telah diberikan untuk manusia. =)
Globalisasi -part 1-
20 Nov 2009 4 Komentar
Sudah lama sekali saya tidak mengupdate blog di WP, entah kenapa lebih senang mengupdate blog di MP. Well, sekarang saya ingin menshare sebuah tulisan yang selama ini saya pending untuk di upload karena skripsi. Judul tulisan ini tentang Globalisasi yang setiap negara akan dan sudah mengalaminya. Tulisan ini hanya menurut pendapat saya dan pikiran saya.
Apa sih arti globalisasi?
Menurut sumber dari wikipedia, globalisasi adalah kurangnya batas-batas antar negara atau dapat juga diartikan sebagai suatu istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias. Adapun ciri-ciri dari globalisasi tersebut :Perubahan dalam konsep ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.
2.Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
3. Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
4. Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.
Dari pengertian dan ciri diatas, cohen dan kennedy berpendapat bahwa transformasi tersebut membawa kita pada istilah globalisme dimana pengertiannya dunia ini adalah satu. Giddens menegaskan bahwa kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal sama, perubahan dan ketidakpastian, serta kenyataan yang mungkin terjadi. Globalisasi memang mepunyai dampak positif dan negatif kesetiap negara.
Apa makna dan arti istilah globalisasi di mata orang Indonesia?
Pertanyaan ini muncul dibenak saya ketika sedang mengikuti kuliah semester yang lalu. Beberapa dosen menjelaskan bahwa banyak orang-orang di Indonesia telah salah dalam memaknai suatu istilah baik dari istilah bahasa inggris maupun dari istilah bahasa lain, bukan karena kita tidak mempunyai kemampuan untuk mengartikan suatu bahasa tapi konsep yang dimaksudkan dalam istilah tersebut tidak tepat ketika diartikan dalam bahasa Indonesia. Kalau kata salah satu dosen saya ” yang penting bagi kita enak didengar dan populer”. Ada juga dosen yang mengatakan “pemasaran di Indonesia itu mengikuti perilaku masyarakatnya yang ‘latah’. Contohnya ketika FO dan distro menjamur, coba kalian tanyakan pada pemiliknya apakah mereka mengerti tentang konsep dasarnya atau hanya ikut-ikutan sesuai trend?kebanyakan hanya latah dan tidak mengerti arti atau makananya” dan ujung-ujungnya para mahasiswa dikelas jadi “muntahan” kekesalan dosen tersebut (yah,setidaknya sang dosen memberi kita suatu pelajaran bagaimana kita harus berhati-hati terhadap salah kaparah konsep dalam bahasa).
Selain membahas tentang bahasa, banyak dosen yang menanyakan apakah kita benar-benar paham makna dari globalisasi tersebut, yang menurut pandangan saya ini adalah pendapat atau prinsip masing-masing orang, tapi pada kenyataannya memang ataupun globalisasi disama artikan dengan englishitation atau inggrisisasi. Maksudnya kita hanya bergaya menggunakan bahasanya saja dengan fasih, tetapi pola pikir kita tetap seperti dulu dan tidak mengerti konsep yang secara jelas diadopsi dari budaya lain . Contohnya dalam bidang akademik, banyak universitas yang membuka program IUP atau International Undergraduate programme, tapi kebanyakan tidak paham akan arti dari program ini. Yang mereka tahu adalah kelas IUP adalah kelas yang memakai bahasa inggris. Pada kenyataannya kelas Internasional dibuka dengan tujuan agar universitas tersebut dapat menerima siswa asing yang ingin belajar di Indonesia. Memang pengajaran dikelas menggunakan bahasa inggris karena kita tahu bahwa bahasa ini adalah bahasa global. Program pertukaran pelajar antar negara yang sekarang ini banyak dilakukan adalah tujuan utama kenapa kelas internasional ini dibuka. Selain itu, tim pengajar yang berada dikelas tidak hanya tim pengajar dari akademisi atau praktisi dalam negeri tapi juga dari luar negeri (pertukaran dosen). Hal ini dimaksudkan agar wawasan atau ilmu yang diperoleh dari mahasiswanya bertambah, dan dapat melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
Saya memang bukan mahasiswa yang berasal dari kelas IUP, tapi banyak teman saya yang berasal dari kelas tersebut. 2 Universitas yang berbeda menerapkan sistem kelas IUP yang berbeda. Yang satu menerapkan kelas IUP yang benar-benar sesuai dengan konsep internasional dan memang mahasiswa/i dari kelas tersebut mempunyai kelebihan yang lain dibandingkan kami dengan kelas yang reguler. Wawasan, pola pikir/mindset mereka lebih baik daripada kami yang dikelas reguler, mungkin karena adanya siswa asing jadi mereka bisa saling bertukar pengalaman. Universitas lainnya membuka kelas internasional berdasarkan konsep nahwa kelas tersebut berbahasa inggris. Ketika saya mencoba berdiskusi dengan teman saya yang satu ini, terlihat perbedaan yang sangat mencolok. Bahasa inggrisnya memang fasih, tapi pola pikir dan pengalamannya tak jauh berbeda dengan kami yang berada dikelas reguler. Malahan dia pernah berkata “kan yang penting gengsinya lebih tinggi daripada hanya yang dikelas reguler. Misalkan ditanya, kuliah dimana? Di universitas X kelas IUP. lebih keren dan lebih bergengsi”. Saya hanya terdiam mendengar kata-katanya itu.
Bisa dilihat konsep globalisasi yang ada di masyarakat Indonesia hanya untuk trend dan gengsi semata?benarkah?yang penting bisa bahasa inggris, memakai merk-merk terkenal, jika ada konsep usaha atau seuatu yang baru langsung diadopsi mentah-mentah tapi esensi ataupun makna dari semua konsep itu tidak dimengerti. Jika begini, apakah kita benar-benar bisa bersaing dalam globalisasi yang kejam dan penuh ketidak adilan????
